• Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit
Blue Orange Green Pink Purple

Kita Punya Cerita..

Tak hanya ilmiah, tapi juga populer..

Temuan Otak Berusia 2.500 tahun

Dalam dunia arkeologi, penemuan sebuah kerangka dalam sebuah penggalian atau ekskavasimerupakan hal yang biasa, namun kali ini sebuah tim arkeolog Inggris telah menemukan sebuah kerangka manusia yang diperkirakan telah berusia sekitar 2.500 tahun. Uniknya, kerangka tersebut ditemukan dalam kondisi otak yang masih utuh. Temuan otak yang telah berwarna kuning kecoklatan dan telah mengkerut tersebut menjadi pertanyaan besar bagi para arkeolog dan ilmuwan lainnya, bagaimana mungkin otak sebagai salah satu organ tubuh yang paling rapuh itu bisa bertahan lebih dari 2.000 tahun.
Hal yang mengejutkan adalah seluruh jaringan lunak pada tengkorak selain otak tersebut telah hilang saat ditemukan dan ditarik dari kubangan lumpur yang diperkirakan berasal dari Zaman Paleometalik tempatnya ditemukan yang kebetulan adalah lokasi perluasan kompleks University of York di Heslington Timur, Inggris. 
Setelah diteliti, tengkorak yang ditemukan dalam kondisi dua tulang rahang dan leher patah itu diduga adalah milik seorang pria berusia antara 26 sampai 45 tahun, menurut tim forensik adalah bukti bahwa jasad itu pernah digantung kemudian dipenggal sebelum terdeposit disana. Meski demikian, sampai saat ini belum diketahui penyebab mengapa ia digantung karena temuan kerangka yang lain belum ditemukan. Menurut tim peneliti, tak ada tanda-tanda tengkorak di Heslington itu sengaja diawetkan atau dibuat mumi.
Tengkorak Heslington (sebutan untuk temuan tersebut) diduga segera dikuburkan di lahan basah (lumpur tersebut) segera setelah tewas. Ketiadaan oksigen mungkin yang menjadi penyebab jaringan otak di dalam tengkorak tersebut membusuk. Meskipun demikian, tim peneliti tentu tidak melupakan adanya faktor-faktor lain seperti penyakit atau perubahan fisiologis tertentu yang mungkin mempengaruhi pengawetan otak tersebut.
Menurut tim peneliti, tengkorak Heslington diperkirakan berasal dari antara tahun 673 sampai 482 SM. Berdasarkan sumber sejarah, Romawi diperkirakan tiba di wilayah itu pada 71 Masehi, jadi tengkorak tersebut diperkirakan adalah milik warga lokal.
Read More 0 comments | Posted by verborheden edit post

Dunzagi, Tambang Garam Tertua



Garam adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. tapi tahukan kalian sejak kapan garam mulai menjadi bagian dari kebutuhan hidup manusia? Pertanyaan tersebut memang terkesan sederhana, namun justru pertnyaan seperti itulah yang sangat sulit untuk dijawab, bahkan untuk dunia yang (katanya) telah memiliki teknologi canggih untuk penelitian tentang masa lalu. 

Penemuan-penemuan terakhir menunjukkan bahwa garam mungkin memainkan peran penting dalam masyarakat prasejarah atau masyarakat yang ada sebelum kemunculan tulisan. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimanakah manusia masa lalu mendapatkan garam? Dua teknik yang biasa digunakan didasarkan pada ekstrasi bongkahan garam atau deposit sedimen yang mengandung konsentrasi tinggi garam yang dapat dimakan, dan kumpulan garam yang dikeringkan oleh matahari di rawa-rawa garam. Pengetahuan teknik-teknik ini yang digunakan dahulu kala untuk mengeksploitasi material mentah seperti garam, obsidian, atau tembaga, memungkinkan para arkeolog untuk mendeduksi informasi penting mengenai kebutuhan dan tingkat kompleksitas masyarakat-masyarakat kuno.

Baru-baru ini, pada tanggal 1 Desember 2010, Jurnal TUBA-AR telah merilis berita mengenai hasil penelitian di bidang Arkeologi yang berisi tentang penemuan tambang garam yang diyakini sebagai yang tertua saat ini. Tambang garam yang ditemukan tersebut berada di wilayah Lembah Araxes, Azerbaijan. Para peneliti dikejutkan oleh produksi garam intensif yang dilakukan di tambang ini setidaknya pada tahun 3500 SM.

Lembah Araxes, Azerbaijan
Studi ini yang pelaksanaannya berkolaborasi dengan Azerbaijan National Academy of Sciences akan membantu menguraikan bagaimana peradaban-peradaban kompleks pertama yang muncul antara 4500 SM dan 3500 SM di Kaukasus terorganisir. Demikian seperti yang dilansir oleh ScienceDaily (27/11/10).

Untuk memahaminya, peneliti CNRS Catherine Marro beserta timnya mengeksplorasi lembah Araxes (Turki, Iran, Azerbaijan) selama sepuluh tahun terakhir dan memfokaskan penelitian mereka pada tambang garam Duzdagi yang berlokasi di Azerbaijan, lebih khusus lagi di sebelah Jalur Sutra zaman pertengahan yang menghubungkan Tabriz (di barat laut Iran) dengan Konstantinopel. Hingga saat ini, penelusuran-penelusuran eksploitasi deposit ini, yang masih beroperasi, diketahui mulai dari abad ke-2 SM. Penanggalan ini didasarkan pada penemuan tak terduga di tahun 1970an dari sebuah runtuhan serambi kuno yang berisikan sisa jasad empat pekerja yang terkubur bersama peralatan mereka.

Pada tahun 2008, satu tim Azerbaijan-Perancis yang dipimpin oleh Marro dan koleganya Veli Baxsaliyev memulai eksplorasi sistematis tambang Duzdagi. Tim tersebut menemukan beberapa artefak seperti keramik dan temuan yang diduga merupakan peralatan yang digunakan pada masa itu, yang tertua berasal dari tahun 4500 SM. Ini merupakan yang pertama kalinya artifak-artifak tersebut dari periode ini ditemukan dalam jumlah besar di sebuah tambang garam. Oleh karena itu para peneliti bisa menunjukkan bahwa eksploitasi tambang garam ini sudah berlangsung sangat lama, setidaknya dimulai pada abad kelima SM. Dengan demikian Duzdagi merupakan tambang garam tertua yang diketahui hingga saat ini.

Satu lagi fakta yang mengagumkan ialah bahwa banyaknya artifak-artifak berasal dari awal Zaman Perunggu mengindikasikan bahwa tambang Duzdgi secara intensif dieksploitasi sejak abad ke-4 SM. Ratusan artefak seperti beliung dan palu ditemukan di dekat pintu masuk terowongan-terowongan yang runtuh serta banyaknya pecahan keramik tanah liat yang ditemukan dekat lokasi tersebut kemudian diperkirakan merupakan bagian kebudayaan yang dikenal sebagai "Kuro-Araxes".

Penemuan ini menimbulkan banyak pertanyaan, seperti siapa yang melakukan penambangan tersebut dan untuk apa garam tersebut digunakan pada abad ke-5 dan ke-4 SM? Untuk mencari sebagian jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, para arkeolog berharap dalam waktu dekat ini bisa menggali terowongan-terowongan yang runtuh tersebut yang meliputi lebih dari 6 km2.

Oleh: Dede Semiawan
Read More 0 comments | Posted by verborheden edit post

Book review: Pompeii: The Life of a Roman Town by Mary Beard

By Pam Norfolk 
Published on Wed Nov 17 21:17:31 GMT 2010
There have always been two versions of Pompeii...the vibrant and bustling town in provincial Italy which was part of a vast empire - and the fascinating ruin that gives tourists a freeze frame of ancient life.
And now there is a new perspective, care of eminent classicist Mary Beard, whose myth-busting, stereotype-savaging, truth-seeking excavation into one of the archaeological wonders of the world unearths some rare gems and unexpected conundrums.
Beard knows only too well the traps that lie in wait for historians and archaeologists hell-bent on reconstructing the past from dry bones and dusty artefacts, and her mission here is to make sense of what we do know, and present a more balanced picture.
So successful has been her interpretation of what she labels the ‘Pompeii paradox’ that she is to present a BBC2 documentary next month proving that ‘how the people of the town lived is actually just as interesting as how they died’.
Beard has become one of the most entertaining guides to the ancient world, taking us back through time with her easy narrative style and professorial eagle eye for classical quirks.
Here she uses her refreshing mix of scepticism and scholarship to reinterpret the evidence that has been used for centuries to make judgments not just on the events of that catastrophic volcanic eruption in 79AD but also on the people of Pompeii and their lives.
Since excavation work on the town first began in the middle of the 18th century, myths have developed and debates abounded, and what we see now as we wander through those 2,000-year-old streets is by no means the real story.
Scratch beneath the surface and you get a very different picture.
One of Beard’s first points of attack is the generally accepted date of the Pompeian cataclysm. The traditional dating is August 25 and 26 but many of the victims were wearing woollen clothing and the discovery of autumnal fruits and a coin which could not have been minted before late September suggest otherwise.
Also, many of the villas have been reconstructed and refurbished either because of the rough methods used by early excavators or because of extensive damage caused by Allied bombing in 1943.
The dead bodies of Pompeii – about 1,100 have been discovered over the years – provide some of the most powerful tourist images of the town.
There are women about to give birth, slaves wearing their ankle chains, lovers clinging desperately to each other and families felled by the pyroclastic flows from Vesuvius.
And yet Beard estimates that probably only about 2,000 died in the disaster, a very small proportion of a population which could have been as high as 30,000.
Most had fled long before the final devastating eruptions buried the town; they loaded up their goods and furniture onto carts and left at the first signs of volcanic activity. Those who stayed were either infirm, chained up or convinced that their homes would protect them.
There is evidence that some returned and tunnelled their way into the wreckage either to steal valuables or to recover their own goods. One particularly grand villa still has a message scrawled into its wall by a looter informing his fellow gang members that ‘this one’s been done’.
Indeed, the looting goes on - in 2003 two newly excavated frescoes were prised off the wall and found three days later in a nearby builders’ yard.
But Beard’s exceptional book is about so much more than debunking. There are also plenty of those intimate and everyday stories that bring Pompeii to life... zebra-stripe colour schemes, evidence of tooth decay and rampant bad breath, amphitheatres without a single toilet, baths ‘seething’ with bacteria and foul-tasting fish sauces.
Best of all, perhaps, is the jar of wine with its delivery note still attached, addressed to ‘Mr Hospitality, the innkeeper, at Pompeii, near the amphitheatre’.
‘A visit to Pompeii almost never disappoints,’ concludes Beard, a sentiment one could apply to all her intelligent and very readable books.
(Profile, paperback, £9.99)
Sumber: http://www.lancasterguardian.co.uk
Read More 0 comments | Posted by verborheden edit post
Older Posts

Color Paper

  • About
      About me. Edit this in the options panel.
  • Dede Semiawan

    Karena kata tak selalu dapat terucap..

    Powered by Blogger.

    Blogroll

    • Ayaruka's Blog
    • http://arkeologi.web.id
    • CIA 89

    Let's Chat..


    ShoutMix chat widget

    Let's Search...

    Pages

    • Home

    Labels

    • arkeologi (8)
    • astronomi (4)
    • candi (2)
    • misteri (5)
    • review (1)

    Popular Posts

    • Dunzagi, Tambang Garam Tertua
      Garam adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. tapi tahukan kalian sejak kapan garam mulai menjadi b...
    • Temuan Otak Berusia 2.500 tahun
      Dalam dunia arkeologi, penemuan sebuah kerangka dalam sebuah penggalian atau ekskavasimerupakan hal yang biasa, namun kali ini sebuah tim ar...
    • Misteri Candi Muara Takus yang Masih Terputus
      Batu bata putih setinggi kira-kira 60cm dari permukaan tanah mengelilingi gugusan candi Muara Takus. Arsitektur bangunan candi dalam genre B...
    • Candi Pari
        Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan n...
    • Misteri Kematian Astronom Abad 16 Diselidiki
      VIVAnews -  Kuburan astronom terkenal asal Denmark dari abad 16, Tycho Brahe, digali kembali oleh para peneliti untuk memecahkan misteri ke...
    • Book review: Pompeii: The Life of a Roman Town by Mary Beard
      By   Pam Norfolk   Published on Wed Nov 17 21:17:31 GMT 2010 There have always been two versions of...
    • Astronom Temukan Sistem Bintang Unik Yang Mirip Permainan Bilyar
      LONDON (Berita SuaraMedia) - Para ahli astronomi menemukan sebuah sistem perbintangan tak lazim, Sistem bintang ini menyerupai bola sodok at...
    • Planet Mirip Bumi Berukuran 2,7 Kali Lebih Besar, Planet GJ 1214b
      VIVAnews  - Tim astronom Amerika Serikat (AS) menemukan sebuah planet mirip Bumi di sistem tata surya lain. Planet itu lebih besar dari Bumi...
    • “Archaeoastronomy”: Cara Baru Menentukan Umur Bangunan Purbakala
      Oleh: Eadhiey Laksito Hapsoro Arkeolog UI, bergerak di bidang TI Archaeoastronomy adalah ilmu yang mempelajari astronomi masa lalu melalui ...

    Followers

    Blog Archive

    • ▼ 2011 (1)
      • ▼ March (1)
        • Temuan Otak Berusia 2.500 tahun
    • ► 2010 (13)
      • ► December (1)
      • ► November (12)

    About this blog

  • Search






    • Home
    • Posts RSS
    • Comments RSS
    • Edit

    © Copyright Dede Semiawan. All rights reserved.
    Blogger Layout | Bloggerized by FalconHive.com
    brought to you by Studio House Design

    Back to Top