• Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit
Blue Orange Green Pink Purple

Kita Punya Cerita..

Tak hanya ilmiah, tapi juga populer..

Ball bearings used to build Stonehenge says expert

Neolithic engineers may have used ball bearings in the construction of Stonehenge, it was claimed today.
The same technique that allows vehicles and machinery to run smoothly today could have been used to transport the monument's massive standing stones more than 4,000 years ago, according to a new theory.
Scientists showed how balls placed in grooved wooden tracks would have allowed the easy movement of stones weighing many tons.
No-one has yet successfully explained how the heavy slabs used to build Stonehenge were shifted from their quarries to Salisbury Plain.
Some, the bluestones, weighed four tons each and were brought a distance of 150 miles from Pembrokeshire, Wales.
Attempts to re-enact transporting the blocks on wooden rollers or floating them on the sea have not proved convincing.
The hard surfaces and trenches needed when using rollers would also have left their mark on the landscape, but are missing.
Experts hit on the new idea after examining mysterious stone balls found near Stonehenge-like monuments in Aberdeenshire, Scotland.
About the size of a cricket ball, they are precisely fashioned to be within a millimetre of the same size.
This suggests they were meant to be used together in some way rather than individually.
The Scottish stone circles are similar in form to Stonehenge, but contain some much larger stones.
To test the theory, researchers from the University of Exeter constructed a model in which wooden balls were inserted into grooves dug out of timber planks.
When heavy concrete slabs were placed on a platform above the balls, held in position by more grooved tracks, they could be moved with ease.
Archaeologist Andrew Young described the experiment in which he sat on top of the slabs to provide extra weight.
He said: "The true test was when a colleague used his index finger to move me forward - a mere push and the slabs and I shot forward.
"This proved the balls could move large heavy objects and could be a viable explanation of how giant stones were moved."
The team went on to carry out a life-size test funded by an American TV documentary maker.
To reduce costs, the scientists used relatively soft green wood rather than the hard oak that would have been plentiful in Neolithic times, when Britain was covered in forest.
This time, the researchers used hand-shaped granite spheres as well as wooden balls.
The results proved the technique would have made it possible to move very heavy weights long distances.
Professor Bruce Bradley, director of experimental archaeology at the University of Exeter, said: "The demonstration indicated that big stones could have been moved using this ball bearing system with roughly 10 oxen and may have been able to transport stones up to 10 miles per day.
"This method also has no lasting impact on the landscape, as the tracks with the ball bearings are moved along leap-frogging each other as the tracks get moved up the line."
Neolithic people were known to cut long timber planks, which they used as walkways across bogs, Prof Bradley pointed out.
Although the tests do not prove for certain that the ball bearing method was used, they show "the concept works", he said.
He added: "This is a radical new departure, because previous ideas were not particularly effective in transporting large stones and left unanswered questions about the archaeological record they would have left behind."
The next stage in the project is to provide mathematical evidence of how much force would be needed to keep a stone moving.
Ultimately, the scientists hope to conduct a full-scale experiment in Aberdeenshire using more authentic materials, stone balls and a team of oxen.
Sumber: http://www.gazetteandherald.co.uk
Read More 0 comments | Posted by verborheden edit post

Planet Mirip Bumi Berukuran 2,7 Kali Lebih Besar, Planet GJ 1214b

VIVAnews - Tim astronom Amerika Serikat (AS) menemukan sebuah planet mirip Bumi di sistem tata surya lain. Planet itu lebih besar dari Bumi dan memiliki kandungan air. Hasil temuan tim dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics itu dipublikasikan di jurnal Nature, Rabu 16 Desember 2009.

Planet itu diberi nama GJ 1214b. Berukuran 2,7 kali lebih besar dari Bumi, planet itu mengitari matahari, yang lebih kecil dan kurang bercahaya dari matahari di tata surya kita.

Meski planet GJ 1214b kemungkinan besar memiliki atmosfer yang terlalu tebal dan terlalu panas bagi bentuk kehidupan seperti di Bumi, penemuan itu merupakan pencapaian besar dalam pencarian kehidupan di planet lain.

"Kegembiraan terbesar adalah karena kami menemukan sebuah dunia dengan kandungan air yang mengitari bintang yang sangat kecil dan sangat dekat, hanya berjarak 40 tahun cahaya dari sistem tata surya kita," kata David Charbonneau, profesor astronomi di Harvard University dan ketua tim penulis artikel di jurnal Nature, seperti dikutip dari laman stasiun televisi CNN.

Planet GJ 1214b tergolong sebagai "super-Earth" karena berukuran antara satu dan sepuluh kali lebih besar dibanding Bumi. Dalam beberapa tahun, para ilmuwan sudah mengetahui keberadaan planet-planet super ini. Sebagian besar yang ditemukan astronom berukuran sangat besar, sehingga lebih mirip planet Jupiter daripada Bumi.

Charbonneau mengatakan, kehidupan di planet GJ 1214b tersebut kemungkinan tidak akan mirip seperti kehidupan di Bumi. "Planet ini kemungkinan memiliki air yang berupa cairan," katanya.


Sumber: VIVAnews
Read More 0 comments | Posted by verborheden edit post

Misteri Kematian Astronom Abad 16 Diselidiki


VIVAnews - Kuburan astronom terkenal asal Denmark dari abad 16, Tycho Brahe, digali kembali oleh para peneliti untuk memecahkan misteri kematiannya.
Makam Brahe yang terletak di Gereja Tyn Church, Praha Ceko, akan diperiksa kembali oleh tim peneliti internasional yang beranggotakan arkeolog dari Ceko dan Denmark, dokter, pakar kimia, serta antropolog kesehatan. 
Tycho Brahe, astronom asal Denmark di abad 16 (Space.com)
Mereka akan melakukan pengujian DNA serta diagnostik modern lain untuk mempelajari sebanyak mungkin data tentang kesehatan Tycho Brahe semasa hidupnya.
Brahe adalah astronom besar yang meninggal pada 1601 dan dikenal sebagai pembuat alat pengukuran bintang dan planet yang paling akurat, tanpa bantuan dari teleskop.
"Kami tidak tahu apa yang kira-kira akan kami temukan dan kami juga tidak mengetahui bagaimana tulang-tulang Tyhcho Brahe diawetkan," ujar Jens Vellev, ketua tim peneliti yang berasal dari Aarhus University, kepada Space.com.
Ini juga akan diikuti oleh kru film yang akan mendokumentasikan investigasi terhadap sisa jenazah Brahe. 
"Ini adalah kesempatan langka untuk mengikuti kelompok peneliti dari Denmark dan luar negeri untuk mengungkap era Tycho Brahe, kehidupannya, juga kematiannya," kata Anna Elisabeth Jessen, tim dokumentasi dari Danish Broadcasting Corporation. 
Penelitian terhadap kehidupan Brahe memang menarik, karena ia adalah sosok ilmuwan yang kehidupannya diwarnai oleh banyak kisah.
Ia dikenal sebagai ilmuwan yang menggunakan hidung porstetik (tiruan) dari perak akibat kehilangan sebagian hidungnya saat berduel di malam gelap. 
Semasa hidupnya, Brahe telah mengkatalogkan lebih dari 1.000 bintang, menemukan konstelasi Casiiopeia pada 1527, serta berhasil membuktikan bahwa komet adalah obyek luar angkasa bukan di atmosfer bumi.
Menurut badan antariksa dan penerbangan AS NASA, Brahe juga sempat mempekerjakan ilmuwan terkenal lain, Johannes Kepler, sebagai asistennya.
Kematian Brahe banyak disebut, disebabkan oleh infeksi kandung kemih, gara-gara enggan ke toilet saat menghadiri perjamuan, karena alasan etika kesopanan.
Selang sebelas hari setelah perjamuan, Brahe meninggal. Namun, ada juga yang mencurigai bahwa Brahe diracun karena ditemukan jumlah kadar air raksa yang tinggi di kumisnya. 
Penelitian ini sendiri bukan merupakan upaya yang pertama. Sebelumnya, makam Brahe juga sempat dibongkar pada 1901, bertepatan dengan ulang tahun kematiannya yang ke-300, namun hasil penelitian tadi tidak tercatat dengan baik.
"Tidak ada hasil pengukuran data atau foto yang kami dapatkan dari penelitian pada tahun 1901. Hanya ada deskripsi fisik pada tengkorak yang tersisa," kata Vellev. 
Pada penelitian kali ini, para peneliti akan mengambil sampel tulang-tulang dan sisa-sisa jenggot Brahe. Tak hanya itu, peneliti juga berharap akan menemukan sisa-sisa baju sutra yang digunakan. 
Makam Brahe akan diteliti selama empat hari, sejak Jumat mendatang. Diperkirakan misteri kematian Brahe akan bisa diungkap pada 2011. (umi)

• VIVAnews
Read More 0 comments | Posted by verborheden edit post
Newer Posts Older Posts Home

Color Paper

  • About
      About me. Edit this in the options panel.
  • Dede Semiawan

    Karena kata tak selalu dapat terucap..

    Powered by Blogger.

    Blogroll

    • Ayaruka's Blog
    • http://arkeologi.web.id
    • CIA 89

    Let's Chat..


    ShoutMix chat widget

    Let's Search...

    Pages

    • Home

    Labels

    • arkeologi (8)
    • astronomi (4)
    • candi (2)
    • misteri (5)
    • review (1)

    Popular Posts

    • Astronom Temukan Galaksi Purba Tersembunyi di Luar Angkasa
      MILTON KEYNES (Berita SuaraMedia)  - Astronom dan kosmolog dari The Open University di Milton Keynes, Inggris berhasil mendeteksi galaksi pu...
    • Book review: Pompeii: The Life of a Roman Town by Mary Beard
      By   Pam Norfolk   Published on Wed Nov 17 21:17:31 GMT 2010 There have always been two versions of...
    • Keris, Senjata Melawan Diri
      Sebagai pusat budaya Jawa, Yogyakarta sangat kaya akan beragam jenis keris. Keberadaan keris kerap kali dilingkupi mitosmitos ”isi” dan kesa...
    • Misteri Kematian Astronom Abad 16 Diselidiki
      VIVAnews -  Kuburan astronom terkenal asal Denmark dari abad 16, Tycho Brahe, digali kembali oleh para peneliti untuk memecahkan misteri ke...
    • Astronom Temukan Sistem Bintang Unik Yang Mirip Permainan Bilyar
      LONDON (Berita SuaraMedia) - Para ahli astronomi menemukan sebuah sistem perbintangan tak lazim, Sistem bintang ini menyerupai bola sodok at...
    • “Archaeoastronomy”: Cara Baru Menentukan Umur Bangunan Purbakala
      Oleh: Eadhiey Laksito Hapsoro Arkeolog UI, bergerak di bidang TI Archaeoastronomy adalah ilmu yang mempelajari astronomi masa lalu melalui ...
    • Temuan Otak Berusia 2.500 tahun
      Dalam dunia arkeologi, penemuan sebuah kerangka dalam sebuah penggalian atau ekskavasimerupakan hal yang biasa, namun kali ini sebuah tim ar...
    • Misteri Candi Muara Takus yang Masih Terputus
      Batu bata putih setinggi kira-kira 60cm dari permukaan tanah mengelilingi gugusan candi Muara Takus. Arsitektur bangunan candi dalam genre B...
    • Candi Pari
        Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan n...
    • Saqqara Bird, Pesawat Mesir Kuno..?
      Tentu saja kita membutuhkan alat untuk bisa terbang, karena kita tidak seperti burung yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Seper...

    Followers

    Blog Archive

    • ▼ 2011 (1)
      • ▼ March (1)
        • Temuan Otak Berusia 2.500 tahun
    • ► 2010 (13)
      • ► December (1)
      • ► November (12)

    About this blog

  • Search






    • Home
    • Posts RSS
    • Comments RSS
    • Edit

    © Copyright Dede Semiawan. All rights reserved.
    Blogger Layout | Bloggerized by FalconHive.com
    brought to you by Studio House Design

    Back to Top